Buku berjudul Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial ini memang bukan buru baru. Buku ini merupakan buku yang dicetak ulang, dimana cetakan pertama diterbitkan pada tahun 1997. Namun demikian, buku tersebut dianggap masih relevan dengan kondisi kekinian.
Ditulis oleh Ratna Saptari dan Brigitte Holzner. Nama penulis yang pertama, merupakan staf pengajar di Institute of Cultural Anthropology and Development Sociology, Leiden University. Ia juga salah satu pendiri Kalyanamitra, yang banyak terlibat dalam isu buruh perempuan dan gerakan perempuan.
Sedangkan Briggite Holzner memperoleh gelar PhD Psikologi dari Salzburg, University tahun 1979. Pada 1989-1992, ia pernah mengkoordinir Proyek Pembangunan dan Ilmu sosial di Universitas Brawijaya, Malang, bekerjasama dengan Leiden University. Saat ini ia merupakan peneliti dan pengajar paruh waktu, yang berfokus pada masalah gender, penyelesaian konflik dan Peace-building.
Penulis menyadari bahwa ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang terus berkembang. Dan pentingnya kita memahami perdebatan-perdebatan masa lampau, yang mungkin sampai sekarang masih relevan untuk direfleksikan. Karena alasan ini dan juga karena permintaan dari berbagai pihak, maka penulis memutuskan untuk mencetak kembali buku Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial.
Pada awal kemunculannya, ide penulisan buku ini didasari atas kursus-kursus gender yang mereka adakan. Kegiatan tersebut hasil kerjasama dari Universitas Indonesia dan Universitas Leiden. Peserta kursus tersebut adalah para staf muda dari berbagai universitas di Indonesia, yang diharapkan bisa mengembangkan Pusat Studi Wanita (PSW) di universitas mereka masing-masing.
Buku ini menggambarkan tentang hakikat kerja perempuan. Cara pandang feminisme dengan pendektan feminisme radikal, feminisme liberal maupun feminisme sosialis. Studi tentang perempuan dianggap penting, karena memiliki dampak atas berbagai pembangunan yang dilakukan oleh Negara.
Sehingga diharapkan, melalui buku ini, dapat menjadi referensi bagaimana pemerintah membuat berbagai kebijakan yang juga mempertimbangkan aspek-aspek perempuan. Atau bahkan kebijakan yang khusus bagi perempuan.
Buku ini juga menjelaskan tentang perubahan sosial di masyarakat dan partisipasi perempuan dalam organisasi dan politik. Menjelasan bagaimana peran perempuan dalam ekonomi pedesaan, maupun kerja perempuan dalam ekonomi perkotaan. Dan di akhir bab buku ini terdapat penjelasan mengenai penelitian berorientasi gender. Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi akademisi yang mendalami masalah gender.
Isu tentang buruh perempuan disinggung dalam bab VII buku ini. Di dalamnya tendapat pembahasan mengenai pembagian dalam pasar tenaga kerja. Pembagian yang memposisikan perempuan berada di bagian yang berupah rendah dan tidak stabil. Menurut Barron dan Norris dalam teori pasar tenaga kerja dualistis, pada dasarnya pasar tenaga kerja terbagi dalam dua segmen atau sektor, yaitu sektor primer dan sektor sekunder.
Sektor primer memberi penghasilan yang relatif besar, jaminan sosial dan kondisi kerja yang cukup baik, kestabilan kerja yang relatif besar dan kemungkinan untuk naik pangkat.
Sedangkan Sektor sekunder memberi penghasilan yang relatif rendah, jaminan sosial dan kondisi kerja yang rendah, dan ketidakmungkinan untuk naik ke jenjang hirarki yang ada.
Buruh perempuan, kaum imigran, dan pekerja kulit hitam cenderung mengisi sektor sekunder. Hal itu karena mereka memenuhi lima atribut antara lain,
Mudah di-”lepas”-kan dari pekerjaannyaBisa dibedakan dari pekerjaan sektor primer atas dasar ukuran-ukuran sosial konvensionalTidak memiliki kemampuan untuk memperoleh latihan dan pengalaman yang berhargaTidak menilai tingi imbalan-imbalan ekonomisTidak akan mengembangkan hubungan solidaritas dengan rekan kerja mereka
Teori ini banyak dikritik oleh kaum feminis. Beechey antara lain mengatakan bahwa, “pemberian ciri-ciri seperti itu bersifat sangat stereotipe, tanpa mempertimbangkan latar belakang maupun variasi pekerjaan perempuan. Walaupun memang terdapat segregasi kerja. Pada dasarnya hirarki ini terjadi bukan karena ciri-ciri dasar yang dimiliki perempuan, namun karena faktor-faktor bukan-ekonomis.”
Buku ini juga mengangkat tentang masalah gangguan seksual pada buruh perempuan. Buruh perempuan sering kali mendapat gangguan seksual, baik dari atasannya ataupun teman sekerja. Namun masalah ini kerap tidak terungkap.
Ada dua alasan. Pertama, dianggap cukup peka dan menyangkut citra yang diperoleh perempuan yang telah diganggu oleh laki-laki. Kedua, banyak gangguan sosial yang tidak disadari karena bersifat sangat halus dan bisa digolongkan sebagai candaan atau hubungan sosial biasa.
Buruh perempuan sering mendapaatkan godaan. Baik dari mandor, buruh laki-laki ataupun laki-laki diluar pabrik. Hal ini terjadi terutama pada saat jam malam. Kehadiran mereka senantiasa mengingatkan kaum perempuan akan bahaya yang selalu mengancam. Situasi ini menyebabkan buruh perempuan tidak leluasa untuk menerima kerja lembur.
Bentuk paling ekstrim dari gangguan seksual adalah pemerkosaan. Pemerkosaan bentuknya sering kali terselubung. Bahkan masalah tersebut sering dianggap sebagai peristiwa yang didasari pada “suka sama suka”.
Studi perempuan dan khususnya dalam buku Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial, menandakan kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia. Studi mengenai perempuan masih tergolong baru di Indonesia, dan masih sering di pertanyakan bahkan di curigai. Seperti yang diungkapkan Prof. Dr. Saparinah Saldi, Guru Besar dan Pengajar di Universitas Indonesia dalam pengantar buku ini.
Buku ini sering menjadi rujukan mahasiswa yang mempelajari studi perempuan. Setiap akhir bab, penulis selalu memberikan pertanyaan-pertannyaan. Pertanyaan yang membuat pembaca ingin menggali lebih dalam mengenai masalah yang dibahas. Pertanyaan yang didapatkan atas dasar kasus-kasus yang nyata terjadi di masyarakat, yang tentu penting untuk dikaji demi kepentingan masyarakat itu sendiri, dan terutama bagi kaum perempuan.
#KabarBuruh